Mahasiswa PLP STIT Madani Dampingi Backpacker Edukatif Siswa SD Islam Darul Falah Gumelar Lor ke Yogyakarta

YOGYAKARTA- Pembelajaran terbaik sering kali tidak hanya ditemukan di balik dinding kelas, tetapi juga di sepanjang perjalanan hidup. Hal inilah yang dirasakan oleh para siswa kelas VI SD Islam Darul Falah Gumelar Lor Tambak saat mengikuti kegiatan bacpacker edukatif ke Yogyakarta pada Rabu–Kamis (23–24/9/2026).

Didampingi oleh mahasiswa Praktik Lapangan Persekolahan (PLP) STIT Madani Yogyakarta, Arina Shulha Diynina, kegiatan dua hari satu malam ini dirancang sebagai wadah pembelajaran kontekstual untuk melatih kemandirian, adab, keterampilan sosial, hingga wawasan budaya para siswa.

Belajar Disiplin Melalui Perjalanan dengan Kereta Api

Rangkaian kegiatan dimulai dari Stasiun Sumpiuh menuju Stasiun Tugu Yogyakarta menggunakan kereta api Joglosemarkerto. Di sepanjang perjalanan, para siswa diajarkan kedisiplinan: menjaga barang bawaan, menaati aturan transportasi publik, serta menjaga adab di ruang umum.

Setibanya di Stasiun Tugu, rombongan tidak langsung menggunakan kendaraan umum, melainkan berjalan kaki menyusuri pasar tradisional dan permukiman warga menuju Pabrik Bakpia Pathuk 25. Jalur ini memberikan ruang bagi siswa untuk mengamati secara langsung ritme kehidupan masyarakat lokal dan aktivitas ekonomi pasar.

Mengenal Proses Pembuatan Bakpia dan Belajar Wawancara

Di Pabrik Bakpia Pathuk 25, siswa tidak sekadar menjadi penonton. Mereka diajak langsung melipat adonan dan membuat bakpia khas Jogja. Kegiatan praktik ini menanamkan pemahaman akan pentingnya kebersihan, ketelitian, serta kerja sama dalam proses produksi sebuah karya usaha.

Tak hanya itu, para siswa dibekali tugas wawancara dengan pengelola pabrik guna mengasah keberanian bertanya, mendengarkan, dan mencatat informasi penting secara mandiri.

Mengenal Warisan Sejarah di Museum Sonobudoyo

Dari pabrik Bakpia Pathuk 25, perjalanan dilanjutkan ke Museum Sonobudoyo dengan berjalan kaki. Sebelum mengeksplorasi koleksi sejarah, para siswa diajak menerapkan ibadah Ketika safar, yaitu menjama’ shalat, serta membeli tiket masuk secara mandiri sebagai bentuk latihan tanggung jawab.

Di dalam museum, para siswa melihat langsung peninggalan sejarah dan kebudayaan Jawa serta kembali melatih kemampuan jurnalistik sederhana melalui wawancara dengan petugas museum.

Belajar dari Masyarakat di Lingkungan Masjid Jogokariyan

Menjelang sore, rombongan menuju penginapan di Masjid Jogokariyan. Setelah beristirahat dan menunaikan salat berjamaah, para siswa mempraktikkan keterampilan sosial dengan mewawancarai warga setempat serta takmir masjid. Dari interaksi ini, mereka mendapat gambaran langsung tentang manajemen masjid dan dinamika kehidupan sosial masyarakat sekitar.

Membangun Kemandirian dan Mengenal Suasana Malioboro

Hari kedua diawali dengan melatih kemandirian siswa: merapikan kamar, mengemas barang bawaan, dan check-out tepat pukul 06.00 WIB. Siswa diajak mencari sarapan sendiri untuk belajar mengelola kebutuhan dan beradaptasi dengan lingkungan baru.

Sebelum kembali menuju Stasiun Tugu pada pukul 09.00 WIB, rombongan sempat menikmati suasana pagi kawasan Malioboro, mengamati berbagai aktivitas masyarakat serta kegiatan perdagangan dan pariwisata yang berlangsung di area tersebut.

Perjalanan sebagai Ruang Pembelajaran

Kegiatan bacpacker edukatif ini membuktikan bahwa pembelajaran kontekstual mampu membentuk kepribadian siswa secara utuh. Tidak hanya menambah wawasan sejarah dan budaya, perjalanan ini menempa kedisiplinan, keberanian berkomunikasi, serta sikap tanggung jawab para siswa.

Bagi mahasiswa pendamping, kegiatan ini memberikan gambaran nyata bahwa mendidik bukan sekadar mentransfer teori, melain     kan membimbing siswa untuk berinteraksi, mengambil hikmah, dan belajar langsung dari lingkungan sekitarnya.

Penulis: Arina Shulha Diynina

DPL: Dr. Adi Haironi, S.Pd.I., M.Pd.I.
Editor: Rizkyana Wahyu Laras Pertiwi, S.Ag., M.Pd.